Lampung Selatan (BP) – Hari ini, 16 Rajab 1447 Hijriyah, jagat Nahdlatul Ulama (NU) genap merajut usia 103 tahun. Momentum ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah jembatan emas menuju puncak sejarah 31 Januari 2026 saat NU secara masehi genap memasuki usia Satu Abad. Bagi kita di Lampung Selatan, angka-angka ini adalah panggilan untuk mempertegas posisi: di mana jangkar khidmah kita tancapkan dalam menyongsong peradaban baru?
Mengenang kembali April 2018 di Pringsewu, saat mengikuti PKPNU Angkatan I, saya menyadari bahwa menjadi kader adalah tentang menjaga “sanad gerak”. Kesadaran itulah yang kemudian meletupkan semangat di Lampung Selatan.
Langkah kaderisasi melampaui berbagai tantangan awal dengan satu keyakinan: bahwa kemandirian kaderisasi adalah harga mati untuk menjaga marwah jam’iyyah.
Hasilnya, Februari 2019 menjadi tonggak sejarah dengan terlaksananya PKPNU Angkatan I Lampung Selatan sebuah ijtihad kolektif yang menghadirkan Instruktur Nasional (Yai Mun’im, Yai Adnan dan 2 instruktur Nasional lainnya) sebagai pengawal ideologi.
Perjalanan dari Angkatan 1 hingga kini menuju Angkatan 39 di Lampung Selatan adalah sebuah manifestasi dari dedikasi yang tak terputus. Ribuan kader yang telah lahir bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan “energi terbarukan” bagi organisasi. Dalam setiap angkatan, kita melihat bagaimana harmoni kerja terbangun antara strategi struktural dan ketulusan kultural.
Setiap jengkal medan di Lampung Selatan dari pesisir hingga pedalaman telah menjadi saksi bahwa khidmah adalah kerja totalitas. Kader penggerak adalah mereka yang senantiasa menjaga keseimbangan; tetap tegak dalam barisan komando namun tetap luwes merangkul akar rumput. Di sinilah letak kekuatan kita: kemampuan untuk terus bergerak bersama tanpa kehilangan arah, meski gelombang zaman terus berubah.
Memasuki abad kedua NU, visi “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” menuntut kita untuk naik kelas. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar melaksanakan seremoni, melainkan bagaimana memastikan setiap alumni kaderisasi mampu menjadi solusi bagi problematika umat. Kita butuh Totalitas, bukan sekadar Formalitas.
Khidmah di abad kedua adalah tentang konsistensi atau istiqomah. Kita diingatkan untuk senantiasa menoleh ke arah yang sama: arah pengabdian kepada kiai dan organisasi. Kekuatan kita terletak pada kerapatan barisan. Sebagaimana filosofi sawo yang menghujam kuat ke bumi namun teduh menaungi, setiap kader harus memiliki kemandirian ideologi sekaligus kemanfaatan sosial yang nyata.
103 tahun Hijriyah dan Satu Abad Masehi adalah momentum untuk mengisi kembali “baterai” perjuangan. Di Lampung Selatan, api militansi itu harus tetap menyala, membakar semangat setiap kader untuk terus berkontribusi bagi kebesaran Nahdlatul Ulama.
Mari kita jadikan setiap langkah khidmah sebagai bukti bahwa kita layak menjadi penyambung lidah para muassis. Dengan barisan yang rapat, komando yang utuh, dan rasa yang tulus, kita jemput abad kedua NU dengan penuh optimisme. Berbakti dengan rasa, menjaga marwah ulama, hingga akhir masa.
Siapa Kita…???!!!
Oleh: Edi Sriyanto
Pewarta: Nurdin Kamini
