Oleh ; Nurdin Abdullah
Bintang Pewarta._Kalau kita menelusuri akar organisasi-organisasi Islam terbesar di Indonesia—Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)—akan kita temukan satu benang merah yang sama: Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sosok ini bukan pendiri salah satu organisasi tersebut, tetapi justru menjadi mata air intelektual yang melahirkan beragam corak Islam Nusantara.
Menariknya, dari satu guru lahir tiga jalan yang berbeda. Kenapa bisa begitu?
Ulama Nusantara di Jantung Dunia Islam
Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860–1916) berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat. Ia mencapai posisi yang sangat prestisius sebagai Imam dan Khatib Mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram, Makkah—sebuah jabatan langka yang menandakan otoritas keilmuan tingkat dunia.
Di Makkah, beliau menjadi rujukan utama pelajar Nusantara. Gaya berpikirnya dikenal:
Tegas dalam fikih Syafi‘i
Kritis terhadap taklid buta
Berani mengoreksi praktik keagamaan yang dianggap tidak berdasar
Skeptis terhadap adat dan tasawuf yang dinilai melampaui batas syariat
Dari majelis keilmuan inilah lahir tokoh-tokoh besar Islam Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari dan Jalan Tradisi NU
Salah satu murid Syekh Ahmad Khatib adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Secara keilmuan, Hasyim Asy’ari mewarisi fondasi yang kuat dalam fikih dan metodologi mazhab Syafi‘i.
Namun, ketika kembali ke Nusantara, ia melakukan langkah penting: mengontekstualkan ilmu. Hasyim Asy’ari melihat bahwa tradisi pesantren, amalan keagamaan masyarakat, dan tasawuf Sunni bukanlah ancaman bagi Islam, selama memiliki landasan dalil.
Dari sinilah lahir NU (1926) sebagai organisasi yang:
Menjaga kesinambungan tradisi ulama
Mempertahankan mazhab fikih
Merawat budaya lokal yang tidak bertentangan dengan syariat
NU menunjukkan bahwa warisan keilmuan Syekh Ahmad Khatib bisa dikembangkan tanpa harus memutus tradisi masyarakat.
KH Ahmad Dahlan dan Semangat Pembaruan Muhammadiyah
Berbeda dengan Hasyim Asy’ari, murid lain Syekh Ahmad Khatib, KH Ahmad Dahlan, menangkap sisi lain dari ajaran sang guru: tajdid atau pembaruan.
Ahmad Dahlan sangat terpengaruh oleh kritik Syekh Ahmad Khatib terhadap praktik keagamaan yang tidak rasional dan minim dalil. Dari sini lahir gagasan untuk:
Kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah
Membersihkan praktik keagamaan dari unsur yang dianggap tidak murni
Mendorong pendidikan modern dan amal sosial
Hasilnya adalah Muhammadiyah (1912)—organisasi Islam modern yang berorientasi pada kemajuan, rasionalitas, dan pelayanan umat. Muhammadiyah menjadi simbol Islam reformis yang tetap berakar pada sumber ajaran Islam.
Syekh Sulaiman ar-Rusuli dan Identitas PERTI
Tokoh penting lainnya adalah Syekh Sulaiman ar-Rusuli (Inyiak Canduang), juga murid Syekh Ahmad Khatib dan berasal dari Minangkabau. Namun, berbeda dari gurunya, Syekh Sulaiman justru menjadi pembela kuat adat dan tarekat Minangkabau.
Ia menegaskan prinsip:
Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah
Bagi Syekh Sulaiman, adat dan tradisi ulama bukan penghalang Islam, melainkan sarana dakwah dan pendidikan umat. Pandangan ini melahirkan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) sebagai wadah ulama tradisional Minangkabau yang menjaga surau, mazhab Syafi‘i, dan tarekat.
Satu Guru, Ragam Wajah Islam Indonesia
NU, Muhammadiyah, dan PERTI sering dipandang saling berseberangan. Padahal, secara historis, ketiganya tumbuh dari akar keilmuan yang sama. Perbedaannya bukan pada tujuan, melainkan pada strategi dan konteks sosial.
NU menjaga tradisi dan kearifan lokal
Muhammadiyah mendorong reformasi dan modernitas
PERTI mempertahankan identitas Islam Minangkabau
Semua merupakan respon kreatif murid-murid Syekh Ahmad Khatib terhadap realitas umat.

Penutup
Kisah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mengajarkan bahwa Islam Indonesia tidak lahir dari satu warna tunggal. Justru, kekuatannya terletak pada keragaman pemikiran yang berakar pada keilmuan yang sama. Dari satu guru, lahir tiga organisasi besar yang hingga hari ini menjadi pilar kehidupan keislaman di Indonesia.(*)












