Dave Laksono : Geopolitik Memanas, Indonesia Harus Perkuat Kedaulatan dan Pertahankan Prinsip Bebas Aktif

NASIONAL (BP) – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat kedaulatan nasional, sekaligus mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah dinamika geopolitik global yang kian memanas.

 

 

 

Penegasan tersebut disampaikan Dave dalam Diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Memperkuat Kedaulatan Bangsa di Era Dinamika Persaingan Global” yang diselenggarakan oleh Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

 

 

 

Dalam paparannya, Dave menyoroti sejumlah konflik internasional yang hingga kini belum menemukan titik penyelesaian, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

 

 

 

Ia menilai bahwa konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun bukan sekadar persoalan bilateral kedua negara. Pasalnya, berbagai pihak eksternal turut terlibat melalui pasokan persenjataan, teknologi, hingga personel militer.

 

 

 

“Kalau hanya Rusia dan Ukraina, seharusnya konflik ini sudah selesai sejak lama. Faktanya, ada suplai persenjataan, teknologi, hingga personel dari berbagai negara,” ujar Dave.

 

 

 

Dave juga menyoroti fenomena warga negara Indonesia yang tergiur menjadi tentara bayaran di zona konflik dengan iming-iming gaji besar, namun pada akhirnya menghadapi risiko kehilangan nyawa.

 

 

 

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah, eskalasi meningkat pasca serangan yang menewaskan sejumlah tokoh penting Iran. Dave menilai stabilitas internal Iran relatif terjaga berkat kuatnya ideologi negara tersebut.

 

 

 

“Pergantian kepemimpinan di Iran berlangsung cepat. Ini menunjukkan mereka tidak mengkultuskan individu, melainkan mengedepankan ideologi,” kata Politisi Fraksi Partai Golkar itu.

 

 

 

Dave mengakui bahwa kondisi geopolitik global berdampak langsung pada perekonomian nasional, khususnya melalui lonjakan harga minyak dunia. Namun, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga melalui kebijakan fiskal yang terukur.

 

 

 

“Pemerintah, termasuk Presiden Prabowo dan Menteri ESDM, mampu menahan dampak kenaikan harga minyak melalui pengelolaan APBN yang prudent,” ujarnya.

 

 

 

Lebih jauh, Dave mengingatkan agar Indonesia tidak mengabaikan ancaman hibrida yang muncul sebagai dampak lanjutan dari konflik global, termasuk potensi ketegangan di kawasan Laut China Selatan serta hubungan China-Taiwan yang kian memanas.

 

 

 

Di tengah tarik-menarik kepentingan antara China dan negara-negara Barat, Dave menegaskan bahwa Indonesia harus konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif.

 

 

 

“China adalah mitra dagang utama Indonesia, tetapi kita juga membutuhkan dukungan teknologi dan kerja sama dari Amerika Serikat serta Eropa. Hubungan harus tetap seimbang,” ucapnya.

 

 

 

Dave pun mendorong Indonesia untuk berperan lebih aktif di forum internasional guna mendorong solusi damai yang konkret dan berkelanjutan, bukan sekadar menghasilkan resolusi tanpa implementasi nyata.

 

 

 

“Indonesia harus terus mendorong solusi permanen bagi konflik global, sehingga tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar menghasilkan perdamaian,” pungkasnya.(*)

 

 

Sumber : PARLEMENTARIA

Tinggalkan Balasan

You cannot copy content of this page