Bintang Pewarta
Oleh: Edi Sriyanto.
Tepat di hari pertama tahun 2026, alam seolah enggan menyuguhkan kemeriahan yang semu. Tak ada terik matahari yang optimis menyambut pergantian angka di kalender.
Sebaliknya, tepat pukul 12.00 siang tadi, langit justru memilih warna abu-abu pekat, dan kini menjelang pukul 13.00 WIB, mendung semakin bergelayut rendah, seolah sedang memanggul beban yang sangat berat.
Di sebuah sudut ruas jalan, pemandangan tak biasa hadir menjadi saksi bisu. Air parit tak lagi setia pada jalurnya; ia meluap, menyeberangi aspal, menciptakan aliran yang memaksa setiap pelintas untuk sejenak menunda langkah dan merenung.
Ada ironi yang manis sekaligus getir di sini. Di tengah hari yang seharusnya membakar aspal, luapan air itu justru menjadi “oase” dadakan. Ia memberikan thermal comfort, sebuah kesejukan mikro yang mendinginkan suhu jalanan dan memaksa debu-debu untuk tunduk melekat pada bumi.
Inilah isyarat paling sunyi dari alam di awal tahun: kita sering kali mendapatkan kenyamanan dari sebuah malfungsi. Kita menikmati sejuknya jalanan justru dari mampetnya drainase.
Sebuah pengingat bahwa di balik kenyamanan yang kita rasakan, mungkin ada sistem yang sedang “batuk” karena kelalaian kolektif kita dalam merawat urat nadi lingkungan. Alam sedang menunjukkan wajah aslinya, memberikan manfaat sesaat sebagai bentuk “protes” atas jalur yang tersumbat.
Bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan di awal tahun ini, aliran air yang menyeberang jalan adalah sebuah “madrasah” dadakan. Di sinilah letak ujian prinsip yang sesungguhnya. Jalan yang basah bukan sekadar hambatan teknis, melainkan garis pemisah antara ego dan empati.
Saat seorang pengendara memilih untuk melambatkan lajunya agar cipratan air kotor itu tidak menghantam teras rumah warga atau pakaian pejalan kaki, di situlah sebuah “resolusi” nyata sedang dipraktikkan.
Bukan resolusi lisan yang mengawang-awang, melainkan laku nyata untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap ruang publik. Di atas aspal yang basah ini, adab kita dipertaruhkan: apakah kita akan melintas sebagai pembawa ketenangan, atau sebagai penebar kesulitan bagi orang lain?
Kini, mendung semakin pekat mengurung cakrawala. Kita tahu, air yang menyeberang ini hanyalah pembukaan. Jika parit tetap dibiarkan tersumbat oleh abainya kepedulian, maka genangan ini akan menjadi titik rapuh bagi ketahanan infrastruktur kita di masa depan. Kesejukan siang ini hanyalah “pinjaman” yang harus dibayar mahal dengan kerusakan jalan jika kita tetap berdiam diri.
Januari 2026 dimulai dengan sebuah pesan: bahwa kebaikan sering kali dimulai dari hal-hal kecil di bawah kaki kita. Jangan sampai kita terlalu sibuk menatap langit untuk mencari keberuntungan, hingga lupa melihat air yang merayap di jalanan, yang sedang berteriak meminta perhatian dan sentuhan tangan-tangan yang peduli.
Tabik.(*)
Pewarta: Nurdin Kamini












