Pemerintah Kabupaten Bengkalis Siap Jalankan Desain Olahraga Daerah

NASIONAL (BP) – Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Riau, berkomitmen menerjemahkan Desain Olahraga Daerah (DOD) menjadi program nyata untuk meningkatkan kebugaran masyarakat dan melahirkan atlet berprestasi.

Meskipun tantangannya adalah implementasi kebijakan tersebut harus berjalan di tengah keterbatasan fiskal dan efisiensi anggaran daerah.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, Hadi Prasetyo, mengatakan keberhasilan pembangunan olahraga tidak cukup diukur dari tersusunnya dokumen kebijakan. Hal terpenting adalah bagaimana kebijakan itu dijalankan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta prestasi olahraga.

“Bagi kami, pembangunan olahraga bukan sekadar menyelenggarakan pertandingan atau mengejar prestasi. Pembangunan olahraga adalah investasi jangka panjang untuk masyarakat yang sehat dan bugar, melahirkan atlet berprestasi, serta membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan,” ujar Hadi dalam Forum Nasional: Transformasi Kebijakan Kepemudaan dan Keolahragaan di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (16/10).

Dalam sesi Pemaparan Perkembangan dan Implementasi DOD di Daerah, Hadi menjelaskan, Kabupaten Bengkalis telah melalui proses penyusunan DOD sejak 2023 hingga akhirnya menetapkan Peraturan Bupati pada 2025. Pemerintah daerah juga telah menyusun peta jalan atau roadmap DOD untuk periode 2025–2029 sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan olahraga lima tahun ke depan.

Menurutnya, tahap selanjutnya adalah memastikan regulasi tersebut terintegrasi dengan program kerja, penganggaran, dan target kinerja perangkat daerah.

“Kami tidak ingin program hanya berorientasi pada penyerapan anggaran. Output dan outcome-nya harus jelas, sehingga setiap program memiliki sasaran dan setiap anggaran dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan hasil yang terukur,” tegasnya.

Dalam implementasinya, DOD Kabupaten Bengkalis bertumpu pada tiga pilar utama, yakni olahraga masyarakat, olahraga prestasi, dan olahraga pendidikan.

Olahraga masyarakat diarahkan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan kebugaran warga. Olahraga pendidikan menjadi bagian penting dalam menumbuhkan budaya olahraga sekaligus mengidentifikasi bakat sejak usia sekolah. Sementara itu, olahraga prestasi dikembangkan melalui pembinaan atlet yang terencana, peningkatan kualitas pelatih, serta kompetisi berjenjang.

Ketiga pilar tersebut diharapkan saling mendukung. Budaya olahraga di masyarakat dan sekolah menjadi fondasi bagi pembinaan atlet, sedangkan sistem pembinaan yang baik membuka peluang lahirnya atlet berprestasi.

Bengkalis juga memilih pendekatan berbasis potensi daerah dengan menetapkan cabang olahraga unggulan. Untuk mendukung arah kebijakan DBON, daerah ini memprioritaskan atletik dan renang. Adapun sepak takraw menjadi salah satu cabang olahraga unggulan daerah.

Hadi menilai, pembinaan tidak harus dilakukan secara merata pada seluruh cabang olahraga dengan intensitas yang sama. Penentuan prioritas diperlukan agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.

Di tengah upaya memperkuat pembinaan, keterbatasan fiskal menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah. Hadi mengungkapkan, efisiensi anggaran berpotensi memengaruhi program kepemudaan dan olahraga, terutama dalam penyusunan APBD 2027.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Bengkalis karena pendapatan daerahnya turut dipengaruhi dana bagi hasil minyak dan gas bumi. Ia menyebut daerahnya menghadapi potensi pengurangan dana transfer sekitar Rp250 miliar pada tahun mendatang.

Karena itu, Hadi berharap pemerintah pusat dapat mendorong kebijakan yang memberi kepastian terhadap alokasi anggaran kepemudaan dan olahraga di daerah.

Ia mengusulkan agar Kemenpora berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mempertimbangkan batas minimum anggaran olahraga, sebagaimana terdapat pada sejumlah sektor lain yang memiliki ketentuan alokasi anggaran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran juga harus dijawab melalui perbaikan perencanaan, efisiensi, kolaborasi, dan penetapan prioritas berdasarkan data.

“Respon kita bukan sekadar meminta tambahan anggaran dari pusat. Kita juga perlu memperbaiki perencanaan, meningkatkan efisiensi, membangun kolaborasi, dan menentukan prioritas berdasarkan data,” ujarnya.

Melalui langkah tersebut, Bengkalis menargetkan pembangunan olahraga yang sehat, berprestasi, dan berkelanjutan. Masyarakat diharapkan semakin aktif berolahraga, sementara pembinaan atlet dapat berjalan konsisten dengan dukungan perencanaan dan sistem regenerasi yang lebih kuat.

“DOD Bengkalis sudah ditetapkan. Sekarang saatnya diimplementasikan. Kami harus memastikan dokumen dan peta jalan yang telah disusun menjadi program nyata, dilaksanakan dengan baik, memberikan manfaat, dan mendorong prestasi,” pungkas Hadi.(*)

Sumber : Kemenpora RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *