Lampung (BP) – Marwah sebuah jam’iyyah tidak pernah semata-mata ditentukan oleh panjang usia kalendernya. Ia justru terpancar dari keteguhan para penggeraknya dalam merawat kesinambungan perjuangan, menyatukan simpul-simpul struktural menjadi kekuatan yang utuh dan tak tercerai. Karena itu, menjaga catatan sejarah kepengurusan bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian dari ikhtiar merawat sanad khidmah agar tetap jernih dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam bentang sejarah PCNU Lampung Selatan, almaghfurlah Kiyai Muhammad Syukron hadir sebagai sosok yang mampu menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam laku hidup yang nyata. Jejak pengabdiannya bukan sekadar deretan nama dalam lembar Surat Keputusan, melainkan rekam perjalanan panjang tentang bagaimana martabat organisasi dijaga dengan kesetiaan yang nyaris tanpa batas.
Menelusuri dokumen-dokumen organisasi sejak 1995 hingga hari ini, kita akan menemukan konsistensi khidmah beliau yang begitu kokoh. Kiyai Syukron bukan figur yang hadir tiba-tiba di panggung kepemimpinan. Ia tumbuh bersama denyut organisasi, menapaki setiap jenjang pengabdian dengan kesabaran dan ketulusan.
Khidmah strukturalnya dimulai sebagai Wakil Rais Syuriyah pada periode 1995–2000. Kepercayaan para masyayikh kemudian mengantarkannya menjadi Rais Syuriyah pada periode 1997–2002, lalu berlanjut sebagai Rais Syuriyah antarwaktu pada 2000–2002. Namun, yang paling membekas dari perjalanan beliau justru bukan saat berada di pucuk kepemimpinan, melainkan ketika dengan penuh kelapangan hati menempati posisi Mustasyar selama lima belas tahun, sejak 2003 hingga 2018.
Selama tiga periode berturut-turut, Kiyai Syukron menunjukkan kedewasaan jiwa yang langka: bahwa pengabdian tidak mengenal strata jabatan. Meski tak lagi berada di jajaran pimpinan harian, beliau tetap hadir di kantor PCNU, tetap mengawal gerak organisasi, dan tetap setia menjalankan tugas-tugas keumatan. Di situlah letak keteladanannya—bagaimana seorang pejuang menempatkan ego pribadi di bawah kepentingan jam’iyyah.
Salah satu warisan paling membekas dari diri beliau adalah integritas terhadap waktu. Kiyai Syukron memaknai disiplin bukan sebagai beban administratif, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap marwah Nahdlatul Ulama. Kehadirannya yang hampir selalu mendahului waktu rapat menjadi penanda bahwa bagi beliau, organisasi ini adalah amanah mulia yang harus dijaga dengan kesungguhan.
Kesahajaan hidupnya pun menjadi pelajaran tersendiri. Beliau tetap memilih mengendarai sepeda motor sendiri dari Pematang Pasir menuju forum-forum organisasi, tanpa ingin merepotkan pengurus lain dengan protokol penjemputan. Sikap itu seakan menjadi kritik diam terhadap budaya menuntut fasilitas sebelum memberi kontribusi. Kiyai Syukron menunjukkan bahwa wibawa seorang pemimpin tidak lahir dari atribut dan kemewahan lahiriah, melainkan dari keteguhan prinsip yang dijalankan secara konsisten.
Ketika organisasi kembali memanggilnya menjadi Rais Syuriyah pada periode 2019–2024, beliau datang membawa semangat pembenahan disiplin organisasi. Dalam pandangannya, NU harus tumbuh secara proporsional: kuat secara kultural sebagai penjaga nilai-nilai pesantren, namun sekaligus kokoh secara struktural dalam tata kelola administrasi dan kaderisasi.
Dari visi itulah lahir ketegasannya mengenai pentingnya kemandirian ekonomi organisasi melalui iuran wajib pengurus, serta kewajiban mengikuti Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU). Beliau ingin memastikan bahwa setiap orang yang berada dalam struktur memiliki ikatan yang sama dalam fikrah, amaliah, dan harakah.
Kiyai Syukron seakan sedang menulis sejarah agar generasi sesudahnya memahami bahwa tegaknya organisasi ini tidak dibangun dalam semalam. Di balik kokohnya jam’iyyah, ada air mata, doa, pengorbanan, dan dedikasi panjang para pendahulu yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Berpulangnya Kiyai Muhammad Syukron pada 4 Desember 2019 menjadi kehilangan mendalam bagi warga Nahdliyin di Lampung Selatan. Namun, riwayat khidmah beliau yang melintasi berbagai fase kepengurusan—dari Wakil Rais, Rais Syuriyah, hingga belasan tahun menjadi Mustasyar—telah menjelma menjadi modal sejarah yang sangat berharga.
Menyisir kembali jejak sejarah dari dokumen-dokumen kepengurusan sejak 1995 hingga hari ini bukan semata upaya mengenang masa lalu, melainkan cara menjaga kesinambungan sanad perjuangan. Kiyai Syukron telah menuntaskan tugas sejarahnya dengan penuh kemuliaan.
Kini, tugas generasi penerus adalah memastikan api kedisiplinan, ketulusan, dan kejernihan pengabdiannya tetap menyala dalam hati setiap kader, agar perjuangan ini terus terjaga martabat dan arah pengabdiannya dari satu periode ke periode berikutnya.(*)
Oleh : Edy Supriyanto & Nurdin Kamini












